Larangan pemakaian burkini menuai beragam kecaman setelah seorang wanita berjilbab terlihat sedang melepaskan atasan lengan panjangnya ketika dikelilingi polisi. Insiden tersebut berlangsung di Pantai Nice.
Berdasarkan gambar yang diambil fotografer lokal Prancis, tampak wanita berjilbab dengan pakaian legging dan atasan lengan panjang tunik didekati empat aparat.
Ketika polisi berdiri di dekatnya, wanita tersebut melepaskan atasannya sehingga setelan dalamnya terlihat. Tak jelas apakah wanita tersebut dipaksa atau tidak. Namun, dalam gambar lain terlihat petugas menuliskan surat denda.
Juru bicara Vantage News yang merilis gambar itu di Inggris mengatakan, mereka merekam insiden itu pada Selasa sekitar pukul 11.00. "Wanita itu dikenakan denda, ia meninggalkan pantai dan juga polisi," ujarnya.
Wali Kota Nice membantah kabar bahwa wanita tersebut dipaksa untuk menanggalkan atasan lengan panjangnya. Wanita itu menunjukkan ke polisi pakaian renang yang ia kenakan di balik tuniknya. Wanita tersebut mengenakan pakaian biasa, dan bukan setelan renang burkini.
Baca juga, Polisi Prancis Paksa Seorang Wanita Copot Burkini di Pantai.
Pekan lalu, Nice melarang pengenaan pakaian burkini di pantai. Nice menyusul 15 wilayah pantai di tenggara Prancis yang telah terlebih dahulu menerapkan larangan itu.
Gambar wanita menanggalkan atasan lengan panjangnnya itu memicu kemarahan. "Saya sangat malu," kicau feminis Prancis Caroline De Haas.
Ini bukan kali pertama insiden serupa terjadi. Sejumlah wanita yang mengenakan pakaian Muslimah dan atasan lengan panjang di pantai juga dihentikan polisi.
Di Cannes, seorang ibu dengan dua orang anak telah diberhentikan dan didenda di pantai. Saat itu ia sedang duduk bersama anaknya di pantai. "Saya sedang duduk di pantai bersama keluarga saya. Saya mengenakan jilbab klasik. Saya tidak berniat untuk berenang," ujar mantan pramugari yang tinggal di Tolouse itu.
Berbicara kepada BFMTV ia menuturkan, tiga polisi mendekatinya dan menerangkan aturan wali kota Cannes. Dalam aturan itu disebutkan, setiap orang harus mengenakan pakaian yang tepat dan ia harus melingkarkan jilbabnya seperti bandana atau keluar dari pantai.
Ia menegaskan kepada polisi, pakaian yang digunakannya normal dan layak. Ibu berusia 34 tahun itu tidak membuat orang lain terkejut dan tidak ada aturan yang melarangnya mengenakan pakaian tersebut. "Saya tidak mengenakan burkini, saya tidak memakai burka, dan saya tak telanjang. Jadi, pakaian saya layak," ujarnya.
Sekitar 10 orang yang berada di pantai membelanya dan mengatakan bahwa Muslimah berjilbab itu tak mengganggu siapa pun. Namun sekitar 10 orang lainnya secara verbal melecehkannya.
"Ada perkataan yang melecehkan, 'Pergilah pulang', 'Kami tak ingin itu di sini', 'Prancis adalah negara Katolik.' Putri saya menangis. Ia tak paham jika ibunya dipaksa untuk pergi," tuturnya.
Muslimah itu lantas dikenakan denda dan polisi menuliskan dalam surat jika pakaiannya tak sesuai dengan nilai sekularisme Prancis.
Mathilde Cusin, seorang jurnalis yang berada di lokasi kejadian, mengatakan, "Sejumlah orang memberikan tepuk tangan ke polisi. Orang-orang itu memintanya untuk pergi atau melepaskan jilbab. Saya melihat wanita yang duduk di pasir menangis bersama putrinya."
Gambar lain diunggah di Twitter oleh Feiza Ben Mohamed dari Federasi Muslim di Selatan. Dalam gambar itu terlihat seorang wanita berjilab dengan celana panjang dan pakaian tunik. Seorang polisi mengatakan, pakaiannya menjadi risiko ketertiban umum.
Aktivis sosialis mengatakan, aksi polisi terhadap Siam di Cannes tidak sesuai dengan aturan hukum. Dewan Prancis untuk Kepercayaan Muslim meminta digelarnya pembicaran dengan Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve. Mereka khawatir ada stigmatisasi terhadap Muslim di Prancis.
Dalam pernyataannya Cazeneuve mengatakan, implementasi sekularisme di Prancis dan pilihan untuk menjalankan aturan itu harusnya tidak memicu stigmatisasi atau permusuhan antarwarga Prancis.
Benoit Hamon, mantan menteri pendidikan yang juga kandidat presiden pada Pemilu 2017 mengatakan, wanita diberhentikan oleh polisi karena mengenakan jilbab di pantai tidak sesuai sekularisme Prancis.
Hal senada juga disampaikan oleh senator Partai Hijau. "Wanita berjilbab dihentikan oleh polisi di pantai, Sekularisme? Bukan. Pelecehan. Penistaan terhadap agama."
Sumber : the Guardian
Berdasarkan gambar yang diambil fotografer lokal Prancis, tampak wanita berjilbab dengan pakaian legging dan atasan lengan panjang tunik didekati empat aparat.
Ketika polisi berdiri di dekatnya, wanita tersebut melepaskan atasannya sehingga setelan dalamnya terlihat. Tak jelas apakah wanita tersebut dipaksa atau tidak. Namun, dalam gambar lain terlihat petugas menuliskan surat denda.
Juru bicara Vantage News yang merilis gambar itu di Inggris mengatakan, mereka merekam insiden itu pada Selasa sekitar pukul 11.00. "Wanita itu dikenakan denda, ia meninggalkan pantai dan juga polisi," ujarnya.
Wali Kota Nice membantah kabar bahwa wanita tersebut dipaksa untuk menanggalkan atasan lengan panjangnya. Wanita itu menunjukkan ke polisi pakaian renang yang ia kenakan di balik tuniknya. Wanita tersebut mengenakan pakaian biasa, dan bukan setelan renang burkini.
Baca juga, Polisi Prancis Paksa Seorang Wanita Copot Burkini di Pantai.
Pekan lalu, Nice melarang pengenaan pakaian burkini di pantai. Nice menyusul 15 wilayah pantai di tenggara Prancis yang telah terlebih dahulu menerapkan larangan itu.
Gambar wanita menanggalkan atasan lengan panjangnnya itu memicu kemarahan. "Saya sangat malu," kicau feminis Prancis Caroline De Haas.
Ini bukan kali pertama insiden serupa terjadi. Sejumlah wanita yang mengenakan pakaian Muslimah dan atasan lengan panjang di pantai juga dihentikan polisi.
Di Cannes, seorang ibu dengan dua orang anak telah diberhentikan dan didenda di pantai. Saat itu ia sedang duduk bersama anaknya di pantai. "Saya sedang duduk di pantai bersama keluarga saya. Saya mengenakan jilbab klasik. Saya tidak berniat untuk berenang," ujar mantan pramugari yang tinggal di Tolouse itu.
Berbicara kepada BFMTV ia menuturkan, tiga polisi mendekatinya dan menerangkan aturan wali kota Cannes. Dalam aturan itu disebutkan, setiap orang harus mengenakan pakaian yang tepat dan ia harus melingkarkan jilbabnya seperti bandana atau keluar dari pantai.
Ia menegaskan kepada polisi, pakaian yang digunakannya normal dan layak. Ibu berusia 34 tahun itu tidak membuat orang lain terkejut dan tidak ada aturan yang melarangnya mengenakan pakaian tersebut. "Saya tidak mengenakan burkini, saya tidak memakai burka, dan saya tak telanjang. Jadi, pakaian saya layak," ujarnya.
Sekitar 10 orang yang berada di pantai membelanya dan mengatakan bahwa Muslimah berjilbab itu tak mengganggu siapa pun. Namun sekitar 10 orang lainnya secara verbal melecehkannya.
"Ada perkataan yang melecehkan, 'Pergilah pulang', 'Kami tak ingin itu di sini', 'Prancis adalah negara Katolik.' Putri saya menangis. Ia tak paham jika ibunya dipaksa untuk pergi," tuturnya.
Muslimah itu lantas dikenakan denda dan polisi menuliskan dalam surat jika pakaiannya tak sesuai dengan nilai sekularisme Prancis.
Mathilde Cusin, seorang jurnalis yang berada di lokasi kejadian, mengatakan, "Sejumlah orang memberikan tepuk tangan ke polisi. Orang-orang itu memintanya untuk pergi atau melepaskan jilbab. Saya melihat wanita yang duduk di pasir menangis bersama putrinya."
Gambar lain diunggah di Twitter oleh Feiza Ben Mohamed dari Federasi Muslim di Selatan. Dalam gambar itu terlihat seorang wanita berjilab dengan celana panjang dan pakaian tunik. Seorang polisi mengatakan, pakaiannya menjadi risiko ketertiban umum.
Aktivis sosialis mengatakan, aksi polisi terhadap Siam di Cannes tidak sesuai dengan aturan hukum. Dewan Prancis untuk Kepercayaan Muslim meminta digelarnya pembicaran dengan Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve. Mereka khawatir ada stigmatisasi terhadap Muslim di Prancis.
Dalam pernyataannya Cazeneuve mengatakan, implementasi sekularisme di Prancis dan pilihan untuk menjalankan aturan itu harusnya tidak memicu stigmatisasi atau permusuhan antarwarga Prancis.
Benoit Hamon, mantan menteri pendidikan yang juga kandidat presiden pada Pemilu 2017 mengatakan, wanita diberhentikan oleh polisi karena mengenakan jilbab di pantai tidak sesuai sekularisme Prancis.
Hal senada juga disampaikan oleh senator Partai Hijau. "Wanita berjilbab dihentikan oleh polisi di pantai, Sekularisme? Bukan. Pelecehan. Penistaan terhadap agama."
Sumber : the Guardian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar